penulis
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Kami Hadir Didua Zaman

Bersyukurnya kita yang lahir ditahun 90an, dimana seni musik sampai pada puncaknya. Lagu yang enak didengar serta penampilan bukan segalanya melainkan suara adalah yang utama. Seni hidup waktu itu dan kitapun hidup dengan seni yang ada. 

Dangdut dan Shela on 7 adalah sountract hidup, dimanapun mendengarkan lagu zaman dulu berasa seperti kenangan yang  nampak didepan mata. Lenyap lagu, lenyap pula kenangan itu. 

Ya, bersyukurnya kita hidup zaman dimana melalui dua zaman. Era 90an kita tumbuh sebagai pemain kelereng, memancing, mencari kayu terbaik kemudian membuat gasing sendiri, sesekali juga ingat bagaimana curangnya bermain gambar yang dibolak balik, main polisi-polisian, berenang sampai sore, serta membantu orang tua di kebun. 

90an adalah waktu dimana hidup sederhana namun dinikmati oleh setiap orang, waktu dimana kearifan lokal begitu kentara. Sopan terhadap orang tua, takut berbicara dengan orang baru, sama guru tak mau mendahului, manisnya berteman, serta asiknya membatu orang tua. Mungkin waktu itu juga adalah zaman dimana nakal yang dihendaki oleh orang tua zaman sekarang,  Era 90an adalah generasi emasnya dunia, dimana tumbuh dengan melihat dua sisi dunia. Tempo dulu dan modernisasi.

Mengenang #Bagian 3



Mau Masuk Pesantren

Menerawang. Garis-garis kehidupan memang sudah dituliskan oleh sang Maha Kuasa. Banyak kenangan yang perlu di tulis agar lembar sejarah tak terlupakan. Bayangkan jika tak terlulis, tak banyak buku yang terbit tentang biografi, tak banyak tokoh yang kita ketahui bagaimana jalan cerita hidup mereka. Banyangkah coba ?, menerawang.

Tamat dari Sekolah Dasar, bapak saya sudah punya planning memasukkan saya di Pesantren untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, waktu itu di daerah Riau, karena saya berasa dari Riau juga. Hal ini di utarakan bapak kepada saya dan mama " Albar nanti masuk pesantren ya ". Nah, pesantren itu apa pak. Pesantren itu kita diam disana belajar agama. Dimana pak ?, di Tungkal " Begitu kata bapak. Bang Al gemana, ? kata mama. " Abang sih iya aja mak". 

Begitulah awal pembicaraan, keesok harinya bapak ke pasar, pas pulangnya bapak bilang " tak jadi ke tungkal kita kebatam aja, masuk pesantrennya. Rekomendasi pak Amir". Batam, ya saya tau daerah itu. Kata buk guru kalian kalau mau nyambung sekolah jangan ke batam. "kenapa buk" batam kota neraka kata ibuk guru kala itu. Well akhinya saya mau kebatam juga, tapi bukan kenerakanya buk tapi jalan kesurganya. Hahaha

Hari yang telah di tentukan akhirnya saya berangkat kebatam, sebelum kebatam saya pastinya pamitan kepada mamak, waktu itu bapak yang antar. Salamlah sama mama, tapi waktu salaman mama nangis, ya saya awalnya tidak nangis tapi akhirnya nangis juga. Mama bilang "bagus-bagus ya belajarnya" nanti lewat depan rumah ibuk guru jangan lupa pamit juga. Akhirnya disepanjang jalan saya nangis, bapak diam saja. Lewat depan rumah ibuk guru nangis saya sudah hampir reda, Tapi pas pamit sama ibuk guru saya nangis lagi. Jadilah nangis sesion kedua. Saya memang cengeng.

Sampailah saya di Kota Guntung, weh saya anak kebun yang tak tau apa, tak tau ini itu, Waktu itu ketemu sama pak amir, dia tanya ini albar?, ia pak saya albar. Saya lupa hari apa itu, yang jelas mama waktu itu memberikan saya baju warna merah kotak-kotak. Itulah baju terindah yang saya gunakan. Sebuah pemberian dari orang tua, awal cerita hidup saya sampai saat ini. Mama dan bapak, I LOVE U lah.

Dari guntung ternyata saya tidak sendiri, ada teman saya dua orang, namanya haris dan ponijo. Waktu itu saya naik kapal marina, dua tingkat dengan kafasitas sekitar 100-200 orang. Itu pertama kalinya saya berjalan jauh sekali, awalnya juga saya merasakan AC sejuknya nauzubillah, maklum selama ini tak pernah kena AC. ACnya mirip kulkas, waktu itu saya tidak tau apa itu AC, tanyalah sama bapak, pak ini apa, kok dingin " AC" jawab bapak. Entahlah apalah itu AC yang jelas dia sejuk.

Saya tidak tau berapa lama perjalanan waktu itu, yang jelas melewati beberapa pulau dan menyinggahi orang, saya kira setiap singah ini adalah batam, ternyata bukan, singah lagi saya kira ini batam, ternyata juga bukan. Hanya menurunkan penumpang. 

Akhirnya kapal bersandar, kita disuruh turun ke pelabuhan, Kami turun, di pelabuhan tapi hanya di pelabuhannya saja, ternyata kami teransit waktu itu bapak bilang sedang di karimun. Ada kisah menarik disini, namanya juga anak kampung, saya dan kawan kawan lemapar lempar ikan di pelabuhan ini dan main air, kami dimarahin oleh petugas. Takutnya setengah mati kami. Maklum sebelumnya belum pernah lihat yang begituan, di kampung saya air lautnya keruh semacam kopi radix.

Akhirnya kami naik lagi ke kapal, saya ingat warna kapalnya, hitam. Lajunya juga mantap. Dikapal ini saya coba lebih berexpresi, saya coba naik ke lantai atas melihat pemandangan, weh indah sekali. Baru kali ini saya lihat pulau-pulau berderet. Sunguh indahnya indonesia. Rasa bahagia timbul tapi sedikit pas ingat mama di rumah. Campur aduklah perasaan ini semacam gado gado. 

Sebelum sampai dibatam saya melihat gedung-gedung tinggi saya kira itu batam, cepat-cepat saya ke bawah bilang sama bapak " pak sudah mau sampai batam, ada bangunan tinggi-tinggi". Bapak hanya diam saja sambil duduk nganguk dan merem. Itu bapak saya.


Ternyata oh ternyata itu bukan batam melainkan Singapore, ya kami lewat perbatasan antara singapore dan batam, tak lama kemudian kami sampai di pelabuhan sekupang.Inilah batam yang katanya kota neraka itu.

Kisah berlanjut, saya dan kawan-kawan naik mobil, ini kali keduanya saya naik mobil yang pertama kali waktu pulang kampung nenek di tembilahan, itu kecil sekali. Kali ini sudah lumayan bujang. Namanya juga anak kampung, di mobil ini saya tidak diam, banyak tanya ini itu sama bapak, bapak hanya diam saja, pak amir hanya senyum-senyum saja. Mungkin aneh lihat saya, kawan saya tidak seusil saya. Di Mobil ini saya pencet pencet tombol kaca kaca mobil, owh ini buat turunin kaca, oh yang ini buat naikin kaca mobil, akhirnya saya pencet tombol itu terus jadi kacanya naik turun-naik turun. Anak kampung, biasalah.

Akhirnya kami sampai juga di pesantren. 

Bersambung.....

Mengenang # Bagian 2







Cerita SD

Ada permainan yang sangat saya suka waktu kecil, yaitu kelereng, orang-orang kampung kami sering bilang kelereng itu dengan guli, saya bisa dikatakan adalah salah satu siswa SD yang paling depu ( jago ) dalam bermain kelereng, biasanya pas pergi sekolah bawa kelereng 5 nanti pulang biasanya penuh semua kantong celana dengan kelereng, pokonya keluar main sekolah saya selalu main kelereng.

Di sekolah saya lumayan pintar, walaupun tidak pintar-pintar amat paling tidak selalu masuk 5 besar. Karena mama selalu gigih mengajarkan anaknya, baik itu membaca, atau lain-lainnya. Mama memang hebat.

Soal belajar sebenarnya saya termasuk anak yang paling malas, tapi bukan hanya belajar termasuk ngaji, dulu kalau disuruh ngaji saya selalu ngambek, kadang sering ngajinya sambil nangis, karena sebelum ngaji mama sudah marah marah dulu. akan tetapi saya selaluhafal surah surah pendek di jus 30, saya ngajinya tidak tau huruf arab itu tapi sangat mudah menghafal ayat, bahkan beberapa kali dengar saya bisa hapal.

Kembali ke keluarga, keluarga saya bagaimana, ya masih terlalu sederhana, waktu itu kalau saya makan sering pakai teh dan gula, karena dirumah tak ada lauk, tapi kadang ada terasi, karena terasi harganya murah, lagian saya memang suka terasi, kata mama, sejak kandungan mama sudah ngidam terasi. Pokoknya setiap hari maunya selalu makan terasi, nah pas sudah lahir " Jadilah Anak Hantu Belacan " Begitulah kata mama. 

Pulang sekolah saya seringnya hanya main-main karena masih kecil sekali untuk kerja, cuman sering ikut mama dan ayah kekebun, ya petik ini itu entah ruput apa yang dipetik, kalau liburan sekolah pagi pagi saya sudah bagun untuk ikut om om pekerja di sekitar situ pergi senso pohon ( tebang pohon mengunakan Sengso, sejenis pemotong pohon besar ) dan itu saya suka lihatnya, nanti pohonya dibuat jadi papan, bloti dan balok balok lainnya, tugas saya hanya bantu bantu, bisanya ngukur lebar kayu yang harus di potong mengunakan tali yang sudah di lumuri oli. 

Kalau mengenang sekilas, kadang masa-masa kecil itu adalah masa masa paling susah, susah tempat tingal, susah mau makan, dan banyak susah-susah lainnya, akan tetapi kalau saya kenang saat ini saya merasa bahwa waktu itu adalah waktu paling bahagia dalam hidup saya, walaupun hidup segala keterbatasan tapi berasa sangat bebas.

Masa Masa ingatan kecil saya selain diatas, saya banyak mengingat masa masa sekolah, karena masa masa sekolah adalah masa masa pertemanan yang akrab, rutinitas bermain saya disekolah selalu sama kalau tidak main guli, ya main kasti, kalau tidak main gambar dan karet itu saja.

Nah, pulang sekolah biasanya kami buka baju celana ( Telanjang, hehehe ) langsung cebur kedalam sungai, wah pokoknya berenang adalah kegiatan saya, sampai merah mata ini karena lama diair, barulah selesai berenangnya sama kawan kawan, selepas itu baru pulang. Tapi kadang juga pas pulang sekolah langsung pulang kerumah, tapi dirumah tetap saja main main sendiri. Tidak mau tidur siang, padahal kalau sekarang maunya tidur siang terus. 

Waktu terus berlalu, saya semakin hari semakin besar saja, saya ingat saya kelas 5 adalah masa masa saya mulai kerja, kerja bantu mama dikebun. Waktu itu mama hamil adex pertama, sedangkan bapak pergi ke desa lain untuk kerja kelapa orang, sementara kebuh harus ditanam jagung jadi saya sendiri yang nanam jagung satu kebun yang super lebar itu . Nama jagung ada stepnya, pertama benih jagung harus di rendam dulu di air terosi ( sejenis air pupuk ) kemudian barulah jagung ditanam, satu lubang bisa 3 biji sampai 4 biji jagung, kalau 5 nanti jagungnya jelek kecil kecil jadinya, jarak antar satu lubang ke lubang lain setengah langkah, nah itu satu kebun saya yang tanah jagung, selesai satu kebun kaki saya langsung bengkak gatal-gatal, sibuklah mama ngobati.

Bersambung....

Mengenang # Bagian 1

Masa Kecil

Masa kecil adalah masa-masa indah meski kita hidup serba keterbatasan, akan tetapi justru keterbatasan menjadikan sebuah cerita yang menarik kala dewasa kelak. Aha, waktu kecil saya suka makan buah ciplukan di kebun-kebun yang tumbuh secara tak teratur. rasanya manis kalau sudah masak, kalau masih mengkal-mengkal rasanya agak manis kepahit-pahitan, saya bersykur dilahirkan lebih awal waktu itu. Era tahun 90an. 

Catatan boleh saja lusuh di terpa oleh waktu, termakan usia tapi sebuah kenangan akan melekat selamanya didalam ingatan. Coba saja mengingat lambat laun ia akan  membawa menjelajahi masa lampau.

Ini cerita tentang kehidupan saya, nama saya Muhammad Albar, saya lahir di sebuah daerah terplosok yang jauh dari hiruk pikuk kebisingan, tanpa debu dan polusi mobil, daerah tersebut bernama Sungai Guntung. 

Saya lahir tahun 1993 tanggal 19 juni. Saya adalah anak pertama yang dibesarkan oleh orang tua, kata ibu dan ayah saya punya kakak tapi waktu kecil dia meninggal, jadi secara otomatis saya adalah anak pertama di dalam keturunan keluarga saat ini.

Waktu kecil saya sering bertanya ke mama, kenapa dibulan itu ada gambarnya, mama bilang itu adalah gambar orang sujud, nanti kalau sudah tak sujud lagi itu tandanya mau kiamat, dilain waktu juga mama bilang Atok pernah bilang kalau itu adalah gambar orang menjahit katanya kalau sudah selesai menjahit itu tandanya mau kiamat. Waktu itu saya percaya saja, padahal mama hanya mengarang menjawab pertanyaan saya sambal mencuci piring di dapur.

Masa kecil saya sangat sulit, waktu itu saya belum sekolah tapi saya sudah mengingat secara pasti bagaimana ayah dan ibu bekerja, kami pergi dari satu desa ke desa lain di sungai guntung, dari desa bakau lurus ke desa penjuru, saya ingat waktu itu kami tinggal di tengah hutan, saya megingat pasti juga mama memasak nasi mengunakan tunggu dari kayu dan jika selesai memasak maka kayu tersebut juga sudah habit di grogoti oleh api, karena disana tidak ada batu, bukit maupun kawah, tanahnya gambut semua, bahkan kami memijak tanah tersebut bisa- bisa kami terjebak dalam sebuah lubang, karena tanah gambutnya belum padat.

Karena saya dan orang tua tinggal di hutan, saya kalau malam sering mengingau, kata mama saya sering teriak teriak, kadang nangis, kadang juga ketawa kalau sedang tidur. Kata mama, kalau lihat hutan sekeliling tidak boleh tunjuk-tunjuk dan tanya-tanya, kalau saya tunjuk dan saya tanya nama benda-benda yang di hutan itu nanti malam pasti saya ngigau, heranya kalau saya tidak tanya-tanya saya tidak mengigau. Tapi waktu itu saya masih kecil, masih suka saja tanya-tanya sama ayah saat lagi jalan dihutan-hutan, soalnya watak saya selalu ingin tau, walau kadang dimarahi ayah karena sering tanya ini itu.

Ya, waktu kecil saya sudah berlanjut, saya masih belum sekolah, tapi saya masih mengingat pasti hal-hal itu yang adek-adek saya tidak pernah lalui. Saya juga mengingat pasti saat mama saya jatuh sakit sekitar 4 bulan, semacam tak sadar diri, sering teriak-teriak, kadang nangis ketakukatan, katanya ada orang besar disitu, sayapun jadi takut. Waktu itu nenak sampai dating untuk ngurus mama, karena ayah juga harus kerha untuk cari makan kami. Sewaktu mama sembuh albar tanya, kenapa mama teriak teriak seperti itu, kata mama dia selalu lihat orang besar dan kadang dibawa kelorong yang gelap seperti lorong waktu, disitulah kadang mama sering tak sadar diri. Semacam film di tv-tv tapi itu nyata dan itulah yang pernah kami alami. Oh ya, saat mama sakit ini saya sudah punya rumah yang terbuat dari kayu tapi masih sederhana sekali, karena rumah disana kayu semua tidak ada yang beton.


Waktu terus beranjak, tapi saya berasa lupa yang pernah saya alami disana, yang saya ingat lagi saya terkejut saat dibawah ayah ke kampong hulu untuk bantu orang angkat rumah, rumahnya besar, dan itu diangkat oleh orang ramai untuk di pindahin, disitulah saya mulai kenal beberapa teman, yang sebelumnya saya tidak ada teman sama sekali, hanya ayah dan ibu, saya ingat saat mereka berbica yang waktu itu saya tidak mengerti mereka berbica apa, dan tidak tau Bahasa apa, lambat laun barulah saya tau kalau mereka itu Berbahasa bugis sementara saya orang melayu kata mama, tapi bapak saya orang banjar. Ah, nama teman tersebut saya tidak ingat, yang jelas beberapa kali bertemu kami sudah main bersama, saya masih suka takjub lihat hal hal baru seperti mercon waktu itu. Wah hebat sekali bisa meledak, saya girangnya setengah mati , walau saya tak bisa memegang mercon tersebut karena saya tidak punya.

Nah, mama pernah cerita kalau saya waktu kecil suka sekali memecahkan pering dan menghilangkan sendok, makanya waktu itu dirumah tidak ada piring kaca mama beli semuanya piring pelastic,karena saya suka curi piring dan sendok untuk buat main, sendok itu di tokok-tokok di piring akhirnya pecah, owh ya saya ingat kejadian ini, rasanya waktu itu saya sangat bodoh. Waktu itu kami tingal dirumah orang, tapi orangnya tidak ada karna lagi di desa lain, disinilah saya suka main tokok-tokok pring. Soal kenapa kami pindah saya tidak tau, padahal sebelumnya kami sudah punya rumah, kalau tak salah waktu itu ayah buat rumah yang agak lebih bagus. 

Ya. waktu kecil saya adalah anak yang cukup bandel, kata mama waktu bayi Albar ini maunya di ayun terus di ayunan, kalau tidak di ayun tidak mau tidur dan nangis, terpaksa bapak dan mama giliran tidur untuk mengayunkan saya, agar tidak nangis.


Dilain waktu mama juga cerita saya pernah ke kampung  nenek ( ibunya bapak ) di tembilahan, karena di guntung tidak ada rumput putri malu maka kalau jalan-jalan saya selalu ketingalan, karena menyentuh daun putri malu yang seperti layu saat di sentuh, di suruh jelan cepat baru jalan lagi kalau tidak jalanya pasti lama gara-gara putri malu itu, dilain waktu saya juga bandelnya tidak ketulungan, saya pernah memasukkan sumur orang dengan banyak sampah, sementara sumur tersebut tempat orang mandi.

Akhirnya sayapun dimasukkan sekolah oleh orang tua, yang saya ingat sekolahnya dekat masjid karena kampong tersebut belum ada sekolah, sedangkan penduduknyapun masih bisa dihitung jari. Saya harus berjalan kaki sekitar setengah jam saja untuk sampai di sekolahan masjid tersebut, sayapun tidak mengingat pasti siapa nama guru saya, siapa juga teman teman saya, yang jelas cukup banyak ada sekitar sepuluh orang.

Yang saya ingat ada seorang guru yang makan piring kaca di depan kelas, entah mengunakan ilmu apa, yang jelas dia memang bisa makan piring kaca dan di kunyah kunyah. Wah waktu itu sekali lagi saya benar benar takjub.

Waktu terus berlalu, saya bahkan tidak mengingat sampai kelas berapa saya sekolah di masjid tersebut, dan saya tidak mengingat juga waktu itu pakai seragam sekolah apa tidak, yang jelas ada beberapa hal yang saya ingat, waktu itu saya ingat guru saya yang baru namanya Buk Rawatiyah, mengantikan pak guru sebelumnya. Waktu itu saya ingat juga saat teman teman saya pada jajan dan saya hanya bisa melihat, karena saya tiak punya uang, jajan yang waktu itu paling ingin saya makan adalah kurup yang besar terbuat dari singkong dan diatasnya di olesi oleh gila merah cair, saya pernah mencicipi sekali itupun hanya sedikit dikasi teman.

Waktu terus berlalu, masih sekolah di masjid itu, saya ingat selain jajan kerupuk itu ada juga nasi kucing, nasinya sedikit terus ada sampai ikan teri pakai kacang, rasanya enak sekali, saya pernah di kasi teman, namanya hamka. Nah hanya dia nama teman yang saya ingat, lainya saya lupa.

Hari terus berlalu, akhirnya kami pindah sekolah, bukan ke tempat sekolah lain melainkan gedung baru tidak di masjid lagi, disini baru saya banyak mengingat kejadian, saya juga mengingat kejadian, bagaimana sekolah saya, bagaimana teman saya, bagaimana rumah saya, bagaimana kebun ayah dan ibu yang sebelumnya hanya hutan belantara.

Disekolah baru ini saya ingat saya kelas 4 sd, ah kalau tidak salah, berarti bisa di pridiksi, dimasjid saya sekolah sekitar 3 tahun, tapi kata mama saya kelas 2nya cepat  karena waktu itu saya pintar, cepat tanggap membaca jadi saya di cepatkan naik peringkat atas, tapi saya tidak ingat.  Nah disekolah baru ini saya sudah mengunakan seragam sekolah, lengkap dengan sepatunya, kami liburnya bukan hari minggu melainkan hari jum’at karena nama sekolah ini bukan sekolah dasar negeri melainkan MI yaitu Madrasah Ibtidaiyah, nama sekolah MI Al-Azhar Penjuru. 

Sekolah saya saat ini lebih dekat sedikit, saya pergi sekolah masih jalan kaki, waktu itu ayah sudah punya seperda, tapi hanya satu jadi ya dipakai oleh ayah untuk kerja. Ya kondisi keluarga kami masih jauh dari harapan, bisa dibilang miskin tapi ayah masih terus berusaha untuk kerja, saya masih ingat ketika dirumah taka da lauk untuk makan, maka mama hanya masak kepala ikan asin, soal makan saya memang tidak rewel, saya sukanya makan terasi, jadi kalau ada terasi bakar sama nasi saya sudah bisa makan. Sampai sekarangpun saya masih suka makan tersasi.

Soal makan, saya bisa makan apa saja tapi tetap saja makanan kesukaan saya terasi dan jantung pisang itu, oh ya, saya dan mama tidak bisa makan ikan darat ( ikan air tawar ) hanya ayah yang bisa makan, tapi ayah tak pernah mau makan, karena takut dimarahin mama, nanti mama muntah muntah di rumah, kalau ayah makan ikan itu, ia sih mama yang masakin tapi masaknya sambal ngomel. Biasalah emak-emak, Waktu itu saya belum punya adek.

Mari lanjut bercerita tentang era sekolah, saya punya beberapa teman, ada hendra, hamka, ratih, rita, rahmah dan lainnya, saya masih ingat mukanya tapi lupa namanya.
Ya..waktu teruse berlalu, sekolah kami hanya 3 lokal, sementara anak yang sekolah dari kelas 1 sampai kelas 6 jadi sekolah dibagi menjadi dua sesi, jam pertama untuk anak anak kelas 1-3 dan jam kedua untuk anak – anak kelas 4-6. Kami pulang sekolah jam 1 siang. 
Teman teman sekolah saya adalah kelahiran era tahun 90an, sudah pasti kami bermain dilapangan semua, tanpa hp dan gatgets, waktu itu kami tidak pernah mengenal hp apalagi gatget, tv saja susah, ada sih teman punya beberapa permainan yang namanya gamebot itu, tapi itu teman bukan saya, sekali lahi hidup saya masih susah untuk membeli yang begituan.

Disekolah saya sering bermain petak umpat di semak belukar, main polisi-polisian dan penjahat, saya lebih suka jadi penjahat, jadi saya yang sembunyi disemak, teman teman yang nyari, itu kami sembunyi hati juga ikut deg dekan takut ketahuan oleh teman yang menjadi polisi. 

Selain bermain petak umpat saya juga sering bermain poli dan kasti. Pokoknya inilah permainan anak anak sekolah dulu, selain itu ada permainan kelerang, saya jagonya bermain kelereng, dirumah  banyak sekali kelerang , sampai 4 botol Aqua besar, tapi saya paling tidak bisa bermain gambar dan karet, mungkin setiap orang punya skill masing masing kali ya. Hehehehe


Bersambung..........

 
Copyright © 2015 Bang Bintang, All rights reserved