penulis
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Warna Buku Nikah Jangan Kebalik Ya Pegangnya....

Buku Nikah. Warna MERA itu untuk lelaki sementara HIJAU untuk perempuan, anda perlu tau itu. Saya tau kerena saya sudah menikah, tepat pada tanggal 18 Maret 2017 kemarin. BDW sekarang sudah bulan April, jadi saya sudah menikah sekitar 24 Hari semenjak artikel ini di publish. Ehem.

Saya kasi tau sekali lagi, buat lelaki buku nikahnya warna merah namun agak ke orange-orangean, sementara buku nikah untuk perempuan warnanya ijo=hijau, bisa dikatakan hijau toska tapi toskanya yang gelap.Soal isi, kedua buku sama, tak percaya chek saja setelah anda menikah.

Saya kurang tau apa arti warna dari buku nikah tersebut, entah memang asal buat, atau apalah pertimbangan dari kedua warna tersebut sehingga menjadi warna pada sampul buku nikah.  Namun, yang jelas saya menyukai apapun warna tersebut, karena dua warna yang melekat pada sampul sebagai pembungkus ikatan suci dalam sebuah undang-undang dan agama. Ah, itulah yang dikatakan ada AKU KAU dan KUA. Kita dapatin buku ini di KUA kan ?

Karunia Lita Setiani


Karunia Lita Setiani itu nama Istri Saya. Tepat pada tanggal 18 Maret 2017 kami resmi menjadi sepasang suami istri sah secara agama juga di akui oleh Negara Indonesia, Amien.

Sedikit bercerita juga harapan dengan nama Karunia Lita Setiani bisa menjadi sebuah anugrah yang terindah buat saya, ya, sesuai dengan namanya.

Karunia. Menurut KBBI KARUNIA adalah pemberian atau anugerah atau penganugrahan atau pemberian atau anugerah dari yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang lebih rendah. Lainnya Nama Karunia berarti Sejahtera yang berasal dari indonesia.

Terpatnya saya di anugrahi Tuhan sebagai pendamping hidup, sesosok yang indah, lebut dan maja menurut saya, saye suke die. yang katanya dia adalah tulang rusuk saya.

Lita. LITA itu punya beberapa arti dalam berbagai bahasa.
  • Lita dalam bahasa Latin, artinya Cantik dan baik hati.
  • Lita dalam bahasa Jawa, artinya Putri yang rupawan.
  • Lita dalam bahasa Indonesia, artinya Sumber kekuatan.
  • Lita dalam bahasa Spanyol, artinya (bentuk lain dari lolita) penuh dengan penderitaan.
  • Lita dalam bahasa Latin, artinya (bentuk lain dari leta) senang.
  • Lita dalam bahasa Sejarah, artinya Bentuk pendek dari nama seperti melita. 
Sepertinya sekilas memang mirip sama orangnya, cantik dan baik hati, rupawan, dia juga sumber kekuatan saya, namun tak berharap dia menderita dengan saya. Yang jelas dia hadir memberikan kesenangan, kalau postur ya agak pendek memang atau memang sayanya yang ketingian. 

Setia-ni : Memurut KBBI SETIA adalah berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya); patuh; taat atau tetap dan teguh hati (dalam persahabatan dan sebagainya). Sesuai dengan nama Setia, ini juga adalah pangilan pada keluarganya juga teman-teman, harapan setia adalah pendamping hidup saya yang selalu setia, selalu berpegang teguh pada janji-janji tuhan, kokoh pendiriannya, taat kepada suami dan selalu di berikan keteguhan hatinya. Setia celalu ya.
Kalau NI+nya bentuk terikat yang merupakan varian pronomina persona ia/dia dan pronomina benda yang menyatakan milik , ah kamu itukan sudah milik sayakan hahahahha




Artikel Hoak


Saya seorang blogger meski masih pemula, menurut saya sah-sah saja membuat judul WAH, karena bisa dikatakan bahwa Judul Adalah Segalanya, kalau dalam konteks SEOnya " Menambahkan Kata-Kata Menarik Perhatian Pengguna " ya itu adalah sebuah keharusan, terlebih bagi seorang Blogger yang notabenenya bermain di Sosial Media yang sedikit menerapkan SEO ( Search Engine Optimation ).

Ada harga dari setiap apa yang kita tulis, ada harga dari setiap apa yang kita posting, itu sudah lumrah dari sononya. Terlebih bagi anda seorang Blogger yang tujuan utamanya adalah Incoming. Well, Saya rasa Everything is Money.

Akan tetapi ada Etika. Meski seorang blogger tanpa UU Pers tertentu, tentu ada etika yang perlu di encamkan pada diri masing-masing, ya etika bagaimana menulis dan mencari pendapatan tersebut.
Satu hal yang saya sayangkan adalah, banyak membuat judul hoak, Fatin matilah, Roma Matilah, cut tari matilah, semuanya berbaur mati dan semua itu Hoak alias tipu-tipu, kenyataan bahwa orangnya masih sehat walafiat meski nanti mati juga.

Sejatinya, mendapatkan pendapatan dari Internet Itu Sah-Sah saja, tapi janganlah membuat sebuah Bom Bastis yang sedemikian rupa. Boleh kata " Kasihan orangnya, kasihan pula yang penasaran terhadap link tersebut, dan kasihan pula yang sudah membuka tidak dapat artikel apa-apa " wal hasil kelik sembarangan, muncul iklan sana sini, timbulah iklan pop up akhirnya itulah yang mereka klik dan andapun untung. Heh, memanen dari jerih payah orang lain. Sekilas memang cerdas, tau pangsa, tau bagaimana membuat sebuah judul yang wah, tau starategi Internet Marketing, tapi salah. Cara salah maka akan salah, dan sayangnya hal tersebut dianggap pembenaran oleh kita sendiri.

Jadi, anda juga harus padai dalam mengunakan Internet, kalau ada Judul yang membuat penasaran coba analisis dulu, lihat sumber link, lihat siapa yang share, nah jika yang share adalah akun bernamakan thailand sudah pasti itu hanya judul saja yang WAH, isinya sih jauh melenceng, bahkan jauh dari kenyataan, Jauh sekali.

Arikel Hoak, hebat memang, cerdas si pembuat, tau pasar, tapi sayangnya kita masih saja tertipu. Selalu saja tak cerdas-cerdas, selalu saja tertipu, bukan satu dua kali tapi berkali-kali, apa saja diklik, besok besok timbulah gambar tak senonoh di beranda. Barulah sibuk tanya sini sana, ini kenapa " Sial siapa yang Hack ", padahal kitanya saja yang masuk perangkap, meski sudah sadar itu perangkap.

Jadi cerdaslah. Nyindir.

Andai Ahok Itu Saya


Andai Ahok itu Saya. Mungkin Saya sudah di jebloskan dalam penjara tanpa harus di demo, andai.
Karena tak akan ada yang mendukung Saya. Semua lantas langsung menghujam "itu salah". Tak ada juga yang punya kepentingan karena saya bukan siapa-siapa, cukup satu orang dari paling bawah jajaran kepolisian datang lantas menciduk Saya tanpa harus basa basi "babibu".

Besok dunia Saya sudah dibatasi oleh jerusi besi tanpa harus sidang seperti Jesica.

Namun, Ahok itu bukan Saya. Dia orang besar, punya seribu jajaran yang mendukung, lagian banyak orang punya kepentingan. Banyak juga yang punya misi. Maka hasilnya seperti itulah, seperti saat ini.

Ya, Ahok itu bukan saya, Saya juga bukan Ahok.

Yang Tak Rilex Hidupnya


Kali waktu kadang kita sebagai manusia selalu suka mengada-ngada berbuat sesuatu yang memang tak seharusnya di perbuat, itulah namanya tak rilex. Terlalu mau mengikuti keinginan dan ambisi terkesan banyak beban.

Sebuah cerita. Sabtu lalu saya hadir memenuhi undangan sebuah hotel berbintang di kota ini. Banyak hal yang saya pelajari dari hal yang sudah pernah saya lakukan namun jarang, sampai hal-hal baru. Namun ada sebuah hal yang membuat saya begitu terpikirkan dan merasa kagum, bukan soal bagaimana cantiknya furniture hotel melainkan bagaimana pelayanan pada hotel tersebut.
Awal saya memang jarang melihat bule (you knowlah istilah bule). Bule tersebut sibuk beres-beres dan memberikan arahan kepada bawahan sampai pada menanyakan kepada tamu sudah pesan atau belum kalau belum mau pesan apa. Hingga pada akhirnya sang bule tersebut mengantarkan makanan kepada kami dan menghidangkan kepada kami sampai menyiapkan taplak makanan sebelum di letakkan piring diatasnya.

Lantas apakah saya terkesan karena bule. Tentu tidak, karena saya pikir semua orang juga bisa berbuat hal yang sama terlebih itu adalah waiters. Namun menariknya bule tersebut adalah GM (General Manager) hotel tersebut. Wew, menarik bukan, bayangkan seorang manager menghidangkan makanan hanya untuk kami.

Lantas saya berpikir, bertapah rilex hidupnya, tanpa mementingkan bagaimana sebuah posisi jabatan lantas bekerja memberikan hal yang bergitu maksimal.

Renungan. Terkadang kita tak rilex dalam menjalani kehidupan. Ada seorang yang katanya ustadz kondang, cermah sana sini, sekali waktu ada pengajian dia tidak di undang marahnya bukan main.
Lain cerita seorang pemilik badang usaha. Punya usaha yang lumayan besar, sekakali waktu kita menegur sedikit, katanya ini saya yang bangun terus kenapa. Kalau tak ada saya ini tak akan jadi, mau saya robohkan ?.Padahal usaha terbangun berkat bantuan pemerintah juga.

Sekali waktu, kadang kita hanya mau di hargai padahal tak pernah menghargai, sekali waktu kadang kita mau di dengarkan padahal kita tak pernah mendengarkan. Sekali waktu kita punya jabatan kadang gila hormat, terkadang kita selalu mau di dengarkan. Bayangkan ?.

Sebenarnya kita hidup hanya perlu rilex, menjalani sebagaimana mestinya, tak perlu berlagak sana sini. Nanti akan datang sendiri jika kita berbuat yang sedemikian rupa. Begitulah kira kira hukumnya.
Terkadang saya memang tak bernilai, tapi saya mampu menilai.

Media, Rayakan Perbedaan


Itu perasaan di Facebook pada siaran langsung demo sana sini, entah Ormas, BEM dan berbagai kalangan element masyarakat tapi kok heran media pada bungkam kalau pun ada ya "angin lewatlah" semacam video opening atau running text, atau berita apalah begitu. Kadang entahlah.

Mungkin itulah yang namanya rayakan perbedaan, atau memang beda atau apalah yang nama beken-beken itu.

Oh.

Dewasa


Lagi, kujalani separuh bumi. Karenanya ku beritahu dewasa bukankah berapa usia namun berapa kepala yang telah ia baca. Bukan juga seberapa tinggi jabatan tapi seberapa ia memahami bawahan.

Karenanya diberitahu, egois adalah sebagian dari ketidak dewasaan. Tentu, sebuah jabatan juga pangkat bukan menjadikan kita harus di pahami. Selalu mengedepankan bagaimana pikiran juga perasaan kita tanpa mengerti bagaimana perasaan mereka. Lantas itukan dewasa, tentu tidak.

Belajarlah tak mesti dengan guru, kadang buku juga menjadi pembimbing yang baik. Namun, belajarlah juga bergurulah. Karena dipahami bahwa butuh seorang nahkoda dalam sebuah kapal meski kita mampu membaca peta. Karenanya kadang pola pikir terbentuk oleh buku yang kita baca juga dengan siapa kita belajar.

Kadang, ada hal hal tertentu yang membuat kita paham. Tak hanya butuh sebuah buku namun butuh sebuah guru agar kita tidak egois, juga tak menganggap kita adalah yang paling benar. Karena guru memberikan kita ruang untuk berpikir lebih luas dengan perbandingan-perbandingan.
Lantas itukan saya, mungkin saja.

Kerukunan Agama yang Gampang Terpecah


Kerukunan gampang sekali di pecah, ulas saja soal agama, maka besok besok terbelah sudah. Lahirlah mereka yang anti ini itu, padahal sebelumnya adem ayem, mungkin tetangga sebelah rumah.
Soal informasi, indonesia bukan barang langka, akses informasi sangat gampang, tingal buka media sosial anda sudah bisa melihat judul-judul yang di share orang.

Cerita soal share maka bercerita pula soal membaca, budaya membaca dan share itu baik, tapi jangan di telan mentah-mentah tanpa filter sedikitpun. Alhasil masih banyak juga yang percaya artikel hoak dan propoganda yang di buat oleh oknum tertentu demi kepentingan.

Alhasil besok pecahlah kubu-kubu, besok sibuklah beradu argument, lengkap pula dengan caci makinya lengkap pula pendukungnya. Lengkap sekali.

Budaya membaca, budaya share itu perlu, tapi memfilter lebih sangat perlu. Jangan sampai salah baca, jangan sampai salah share besok kita berantam, padahal kemaren kawan hari ini lawan. Besok satu pemikiran hari ini dah beda visi. Lahir pula kubu-kubu yang katanya paling benar.

Tentang Kesalahan dan Memaafkan


Tak ada manusia yang benar-benar baik. Namun sebaliknya tak ada manusia yang benar benar buruk. Pepatah mengatakan " tak ada manusia yang telahir sempurna" mengindikasikan bahwa sempurna hanya milik Yang Maha Kuasa.

Lalu mari bercerita tentang sebuah kesalahan. Tak ada manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan bukan, karena sejatinya memang manusia tempat salah dan khilaf. Namun, sebagai manusia yang diberikan nalar untuk berpikir rasanya salah besar jika terus berbuat kesalahan terlebih dengan kondisi yang serupa. Sebuah kesalahan fatal jika harus "jatuh pada lobang yang sama". Sejatinya manusia mampu berlajar dari sebuah kesalahan tanpa harus terulang dan terulang lagi.

Namun apakah sebuah kesalahan yang kita perbuat selesai hanya dengan meminta maaf. Tentunya jika bersingungan dengan face to face rasanya bisa dikatakan "iya" tergantung dari jenis perbuatan tersebut dan kebesaran hati yang akan memaafkan. Tapi, akah sebuah maaf akan terselesaikan begitu saja. tentu tidak. Bak memaku di dinding setelah di cabut akan menghasilkan sebuah lobang. Begitulah kira-kira.

Tentang BTP (A). Apakah dengan meminta maaf lantas sebuah kesalahan dianggap clear. Tentu tidak, agama memang mengajarkan memaafkan lebih baik dari pada meminta maaf. Namun, apakah bisa memaafkan jika sebuah kesalahan adalah sebuah kesalahan krusial. Tentu tidak.

Logika, saya bisa memaafkan jika ada seseorang yang memukul saya, lalu marah dengan saya meski saya benar. Tapi rasanya berat jika saya harus memaafkan jika ada seseorang yang memperkosa keluarga saya. Maka hukumnya adalah, saya akan meminta untuk dijerat dengan seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku pada suatu negara.

Lalu bagaimana jika sang pembuat kesalahan berkilah bahwa apa yang di perbuat keluar kendali atau sebenarnya tidak bermaksud bergitu. Alah, hukuman tetap ada bukan. Contoh simpel. Mungkin kita pernah membaca cerita di sosial media ini tentang membawa narkoba, padahal dia tidak tau apa yang dibawa, katanya dia di titipin oleh seseorang. Lantas apakah petugas akan melepaskan tanpa memberikan sangsi karena dia tidak tau apa yang dia bawa. Tentu tidak, maka petugas akan menjerat dengan pasar tertentu dan sesuai banyaknya narkoba yang ia bawa.

Lantas bagaimana jika hal tersebut memang dilakukan oleh seseorang, Bukti ada. Pengaduan sana sini. Sudah di demo dari segala penjuru. Entahlah, atau mungkin hukum tajam dibawah dan tumpul diatas. Atau memang sudah zamannya kebalik.

Atau bisa jadi besok keluar pengalihan isu untuk menutup fenomena yang sekarang terjadi. Namun yang pasti " Kita tidak bisa melihat penjelasan di hati orang lain. Tetapi bukan berarti penjelasan itu tidak ada ".

Nusron Wahid.


Banyak fenomena yang mengelegar bulan ini. Salah satu diantaranya adalah Kanjeng Dimas si penganda uang itu dan Nusron Wahid di ILC kemarin. Namun, saya bukan bercerita tentang kedua orang tersebut tapi sedikit bolehlah, tapi yang jelas ada kesamaan diantara mereka berdua. Yaitu menyoal tentang agama.

Saya setuju dengan kata Fahri Hamzah bahwa " Agama jangan dihilangkan dalam element kehidupan ". Namun jangan pula agama menjadi sebuah alat untuk mengapai dunia yang entah berantah. Memang dalam dunia juga perlu agama, tapi jangan menjual agama demi sebuah prestasi yang yang justru jauh dari anjuran agama.

Orang bilang "memang lidah tak bertulang" menunjukkan bahwa siapapun bisa berbicara sesuai dengan apa yang ia ingin sampaikan. Tapi lidah digerakkan oleh hati. Ketika hati busuk, maka lidahpun mengeluarkan suara busuk pula.

Seperti kata bijak " Ketika hati kotor, maka ucapanpun akan menjadi kotor. Karena ucapan adalah gambaran hati si pemiliknya.

Ketika si NW berbicara saya teringat tentang pepatah " Lidah tajam otak kosong biasanya ada pada kepala yang kosong ".

Betul ada baiknya berbicara dengan hatimu sebelum berbicara dengan lidahmu.

Saya teringat dengan kata-kata Hasim Muzadi mantan ketua Umum NU. " Kepintaran juga kecerdasan tergantung suasana jiwa. Profesor-profesor yang cerdas ini, yang super pintar ini kalau pulang kerumah dimarahin istri ya goblok juga".

Jadi kembalilah ke jalan yang benar.

Diakuin


Beberapa bulan silam muncul tulisan di sebuah flatform blog milik kompas yaitu kompasiana, intinya menyindir blogger baru yang ngaku ngaku sebagai blogger, sok menyatakan diri sebagai blogger traveling dan sebagainya, katanya pahadal tak punya dedikasi sama sekali, taunya sok nyatakan diri sebagai blogger, tau apa ?

Ada aksi maka timbul juga reaksi, sejurus kemudian banyak yang berkomentar, dan bagi saya wajar saja banyak yang komentar,saya juga ikut berkomentar, kata saya " ya kalau sudah mengunakan blogger ya di sebut blogger. Tak hitung waktu, mau lama atau baru, terserah mau mengunakan flatform apa selama ia bisa ngeblog ya itulah yang dinamakan blogger ( pengguna blog disebut blogger ) ".

Teman saya banyak blogger, mungkin saya juga blogger walaupun masih pemula, hanya sekedar share yang tidak bermutu dan cuap cuap ala gaya saya, itulah yang saya tulis sekadar membuang isi kepala, walalu tak ada yang membaca tapi tetap saja saya juga blogger.

Lain cerita dengan judul diatas, satu sanggahan penting, bahwa blogger itu di akui dan sekarang malah ada yang namanya blogger prefesional dimana kerjanya dan hidupnya hanya ngeblog dan tentunya dari sanalah mereka bisa menghidupi diri sendiri dan keluarga, kisarannya bukan kecil tapi bisa puluhan juta perbulan ada juga yang skala ratusan juta. Saya bagaimana " entahlah ".

Lain cerita dengan judul diatas, bahwa blogger itu di akui, ada namanya hari blogger nasional yang bertepatan pada tanggal 27, bulan sepuluh setiap tahunnya, lain cerita juga dengan facebook ternyata mereka memasukkan  Blogger dalam kategori Artis, Group Musik, dan Tokoh masyarakat. Tak percaya coba buat fanspage baru kemdian pilih Ketegori Artis dan Tokoh agama, dan lihat sub kategori yang diberikan, ada blogger disitu.
Cuman Anu

Teruntuk Calon Mertua Dan Tulang Rusuk Ku Dari Ku Seorang Lelaki


1 Hadist mengingatkan saya bagaimana memilih calon istri. Jauh-jauh hari Baginda Nabi Besar Muhammad SAW sudah mengatakan tentang 4 Krakteria seorang isti idaman bagi seorang peria Muslim. Beliau bersabda :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ (رواه البخاري و مسلم عن أبى هريرة)

Artinya : Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung. (Dikutip dari kitab mukhtar al-hadits an-nabawi hal 63 n0 21.)

Sore ini ketika sedang berjalan sekilas terbayang oleh saya sebuah kata yang bisa saya bahasakan kepada calon kedua mertua juga kepada calon tulang rusuk saya nantinya, bahwa :

" Jika kedua ayah dan ibu mertua juga kamu tulang rusuk ku menginginkan seorang calon yang rupawan, harta melimpah, juga memiliki jabatan yang istimewa, mungkin saya akan mundur. Karena saat ini saya belum memiliki itu semua. Tapi percayalah kepada saya, dengan agama yang sama, saya akan membawa anak ibu dan bapak kepada kebahagian dunia dan akhirat. Juga pasti sebagai seorang lelaki tak akan membiarkan seorang yang ia sayangi akan hidup melarat dengan apa adanya. Saya akan berusaha mendapatkan harta juga martabat dikemudian kelak, semoga itu terwujud, maka percayalah kepada saya".

Orang sering bilang bahwa " Cacing yang ditanah saja mampu makan, kenapa kamu tidak "secara logika memang benar cacing saja mampu makan, apalagi manusia yang berakal.Tapi terkadang satu penapian tercipta oleh orang-orang " bukankah cacing banyak terdapat makanan dimana mana " atau "memangnya kamu cacing yang makan tanah gampang dicari ?". 

Untuk kedua calon mertua ku, juga calon istri. Percayalah, disinilah peran agama seperti yang di katakan Rasulullah SAW, jika kedua orang tua takut dan kamu juga takut tidak makan, tidak hidup. Maka saya akan menapikan itu. Percaya bahwa tuhan selalu bersama hambanya selama hambanya berusaha. Kalian mungkin tau bahasa bahwa " Tuhan tidak akan menguji hambanya sesuai dengan kemampuan hambanya tersebut " lagian percayalah bahwa tuhan tidak akan meninggalkan hambanya begitu saja terlebih jika hambanya tersebut selalu ingat akan tuhannya. 

Jika kita percaya dan ingat akan pencipta, maka tuhan juga akan menolong kita. Bukankah api tidak membakar Nabi Ibrahim, bukanlah Paus tidak memakan Nabi Yunus, dan kita juga tau bukankah laut tidak menengelamkan Nabi Musa ?. Mereka percaya akan tuhannya maka tuhannya juga menolong hambanya yang percaya. Lalu kenapa kita tidak percaya tuhan tidak menolong kita bukankan hanya sebatas makan dan tempat tinggal ? yang logikanya bisa kita dapatkan jauh kata dari "Hukum Alam".Bukankah dimana ada usaha disitu ada jalan. Hidup sebenarnya selalu berjalan beriringan, dan itulah hukum alamnya. Ada usaha ada pula hasil. Selalu ada kata " Simbiosis Mutualisme". 

Ayah dan ibu mertua, percayakahlah anakmu kepada ku. Segala kekhawatiran InsyaAllah tak akan terjadi, dan kamu percayalah kepada ku jika ingin hidup bahagia didunia dan Akhirat saya akan berusaha semaksimal mungkin membuat itu tercipta.

Restu dan terimalah aku. Maka saya akan berusaha semampu saya membuat semuanya menjadi indah dengan bingkai-bingkai agama di sekeliling kehidupan dunia hingga ke Jannah. 

Ragukah ?, atau salahkah saya yang membuat semunya indah dengan bermodalkan agama, atau masihkan berpikir bahwa saya tidak menginginkan hal duniawi juga. Percaya saya akan berusaha membuat semuanya menjadi nyata dengan berusaha dan doa. 

Salahkan saya yang mengingikan hidup bahagia di akhirat, namun tetap berusaha di dunia ?.Pasti tak ada manusia yang ingin hidupnya melarat, namun tak ada juga manusia yang ingin hidupnya tersiksa di neraka. 

Percaya ketika kita memegang akhirat, maka kita akan mendapatkan yang kekal, namun ketika memegang dunia maka kita akan mendapatkan yang semu. Semua akan kita tinggalkan bukan, bahkan saat kita masih dunia saat akan meningalkan dunia, belum di akhirat semunya hal dunia sudah kita tinggalkan. Namun tak ada salahnya saya berusaha mengapai dunia juga menggapai akhirat dengan anak mu.

Maka. Percaya pada tuhan juga percaya pada saya. Kelak akan hadir yang comel-comel sebagai penyejuk mata. 

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

( Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqiina imaama )

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan:74)


FB : Bang Bintang / Batam, 22/08/2016

Ramadahan Saatnya Menghijrahkan Diri


Marhan ya Ramadhan, membuka lebar tangan, membuka hati, menutup segala dosa, membuka segala cakrawala iman.

Hidup Tanpa Batas

Hidup itu harus tanpa batas, batasnya adalah saat kita sudah tidak di bumi lagi. Meski perjalanan masih ada, tapi segala aspek yang berhubungan dengan dunia sudah dihentikan. Nah, selama kita masih berpijak di dunia lakukan segalanya, explorer diri dengan melakukan banyak hal yang terbaik dan terindah. 

Kearifan Lokal Sebagai Budaya Pendidikan Leluhur


Mengenal Kearifan lokal, maka kita mengenal dua kata yaitu kearifan (wisdom) atau kebijaksanaan dan lokal (local) atau setempat. Jadi kearifan lokal adalah gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Lebih gampangnya kita mengenal kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya yang baik yang ada di dalam suatu masyarakat.

Di suatu tempat, seorang anak muda yang bersalaman dengan orang tua tanpa menundukkan kepala maka dianggap kurang ajar, itu adalah kearifan lokal. Di Sulawesi, suatu kearifan lokal tercipta dari orang-orang bugis. Bahwa, saat kita akan melewati didepan orang tua yang sedang berbicara kemudian kita berlalu begitu saja tanpa menundukkan kepala dan menjatuhkan tanggal kanan seraya berucap "tabe" maka itu dianggap kurang ajar, “ tidak ada sopan santun". 

Seperti itulah kearifan lokal. Dari kecil kita diajarkan sopan santun ala lokal dengan kebijaksanaan ala orang-orang tua zaman dahulu. Meski mereka tidak tau apa itu kearifan lokal, tapi mereka mengajarkan nilai nilai luluhur yang baik. Bagaimana sopan dan santun, bagaimana pula cara bergaul dengan sesama, bagaimana pula berinteraksi antar yang muda dengan yang lebih dewasa, antar yang dewasa dengan yang tua. Semua ada etika. Dan kearifan lokal mengajarkan hal itu waktu dulu.

Lalu mari kita sejenak melihat perilaku anak-anak era ini. Tentu kini berbeda, sebagai komparasi mari kita bertanya tentang sebuah kearifan lokal yang masih dipegang teguh ditempat kita yang masih menjadi sebuah nilai tersendiri jika tidak melaksanakannya. Rasanya sulit mengatakannya meski ada. Ya, sebuah nilai kearifan yang hilang, segala kebijaksanaan diganti dengan budaya-budaya baru, yang merubah sikap, mental dan tatanan budaya dalam sebuah masyarakat itu sendiri. Rasanya kearifan lokal itu lenyap bak hilang ditelan bumi, kini segala kearifan sudah sirna, hilang entah berantah, yang ada moral-moral yang menyimpang. jauh dari norma agama dan nilai leluhur yang baik.

Suatu generasi yang mencemaskan, ,mungkin itu adalah kita, mungkin itu adalah keluarga kita. generasi kini sedikit sekali yang masih memegang kearifan lokal, bukan  tidak sedikit kita temukan nilai moral yang menyimpan pada usia muda masa kini, sebagai contoh anak sekolah dasar (SD) sudah berpacaran, belum lagi yang remaja. Beberapa kasus pembegalan adalah rata-rata komplotan anak remaaja setara sekolah menengah pertama (SMP dan sekolah menengah atas (SMA). Belum lagi kasus baru-baru ini tentang pemerkosaan yang yang bisa dikatakan masih remaja. Segala bentuk penyimpangan hadir dan nampak didepan mata kita. 

Tentu segala bentuk penyimpangan perlaku dan moral ada sebabnya, sebagai contoh mudahnya akses internet sehingga mudah pula masuk nilai-nilai yang tidak baik. Baik itu lewat sosial media, atau situs-situs lain, belum lagi tontonan televisi (TV) yang jauh dari nilai edukasi yang diserap tanpa filter dan hal-hal lainnya. 

Mengikuti perkembangan zaman memang perlu, karena lingkungan berkembang, otak kita berkembang dan cara berfikir kita juga ikut berkembang sehingga kita perlu mencoba untuk menyesuaikan agar kita tidak tertinggal. Akan tetapi bukan berarti menghilangkan nilai-nilai baik didalamnya, salah satunya adalah nilai kearifan lokal.
Dengan kearifan lokal , kita mengenal sopan dan santun, dengan kearifan lokal kita belajar berpikir, dengan kearifan lokal kita belajar menfilter yang membuat hati enggan melakukannya. 

Bukan tanpa sebab kenapa nilai-nilai norma dan agama jauh dari anak-anak masa kita, mungkin termasuk kita. Karena banyaknya nilai luar yang masuk sementara sedikit filter dalam diri kita. Selain itu sedikitnya nilai edukasi dalam diri, sehingga untuk penguatan hati dalam melakukan segala sesuatu yang bertentangan sangat sulit dilakukan meskit tahu bahwa hal tersebut salah. Tentu peran keluarga juga sangat diperlukan, karena keluarga adalah bangku sekolah utama. Segala nilai dan kontrol yang baik dalam keluar akan mampu menjadi anak-anak yang berperilaku baik, tentu agama adalah tonggak moral, pemahaman agama yang baik akan menjadi insan yang baik pula. 

Pemahaman agama yang baik, peran keluarga yang berkesinambungan dan pengajaran nilai-nilai budaya dan leluhur lewat kearifan lokal tentu akan menjadikan anak-anak dan kita yang lebih berbudaya yang sesuai dengan harapan semua orang. 

Logika Ikhlas


Mari berlogika, karena dengan logika kita merasa berakal, meski tak semua bisa dilogikan, karena ada hal-hal diluar sana yang jauh dari nalar kita tapi kita percaya.

Logika itu sederhana dengan logika pula kita bisa mengerti dan dengan logika pula kita bisa berpikir bahwa apa yang kita kerjakan terkadang seperti sebuah pembodohan untuk kita.

Ikhlas

Ikhlas itu kadang susah sekali kita lakukan, meski sudah mencobanya, kadang ada faktor keterpaksaan, tapi sayangnya kita tidak bisa juga ikhlas.

Kenapa tidak di logikakan. "Bukankah sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas akan mendapatkan pahala, lalu kenapa kita tidak bisa ikhlas, bukankah mau tak mau kita tetap mengerjakannya, jadi ikhlas tidak ikhlas kita tetap pada satu tuntutan ya itu mengerjakannya, jadi sesuatu yang tidak dilakukan dengan ikhlas maka akan sangat merugikan, berapa kerugian yang kita dapatkan jika tidak ikhlas. Banyak, sakit hati, setengah hati pengerjaan dan tidak mendapatkan pahala, jadi sayangkan,so ikhlas aja itu jauh menguntungkan ".

Jadi kalau tidak ikhlas sejenis kita adalah orang yang bodoh.

Tentang Cinta dan LGBT, Mari Meninjau LGBT dari Sudut Manapun


Mari sedikit meninjau tentang LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender) yang akhir-akhir ini sangat marak di beritakan Media, yang jelas bukan saya yang mendukung tapi bisa saja Medianya. Ah, medianya cucok deh.

Lalu mari kita meninjau dari sudut-kesudut, melihat dari berbagai arah, dari sisi-kesisi, dari situ kesini apakah LGBT benar ?

Menurut Budaya Indonesia.
Tak perlu membahas Indonesia sampai kepancasila, mari kita melihat budaya Indonesia Soal kata "Homo " misalnya, rasanya tabu berkali-kali. Rasanya ada rasa jijik sendiri jika mendengar kata Homo bukan ?. Selain itu indonesia terkenal dengan Rasa Malu, ya rasa malu yang kuat. Seseorang akan sangat tidak suka jika di ejek Bencong, Waria dan sebagainya. Bukankah itu semua adalah sebuah budaya bahwa Indonesia sangat anti dengan yang namanya LGBT itu. Ya Budaya Indonesia Adalah Kearifan Lokal dan lestarikanlah itu.

Menurut Agama Benarkah LGBT ?
Saya sendiri seorang muslim, saya sering diceritakan tentang Kisah Nabi Luth dan Kaum Sodom yang menyukai sesama jenis yang pada akhirnya di Azab, agama Islam sangat melarang keras LGBT ini.

Dan saya rasa tak ada agama yang memperbolehkan LGBT, jika ada mungkin itu adalah agama di planet nun jauh disana, yang bukan agama Jin dan Manusia, sejenis agama patung.

LGBT Dari Segi Medis
Dari segi medis bahwa ini adalah bentuk dari Penyakit, bisa jadi karena trauma masa kecil atau pelarian saja. Jadi LGBT itu sejenis penyakit, bukan faktor Gen. Tau sendirikan bahwa setiap penyakit ada obatnya, kecuali tua dan mati.

Semuanya berpasangan. Dua tangan, dua mata, dua telinga, siang dan malam, langit dan bumi, Aku dan Kamu. Indah bukan, sebuah ikatan Cinta terjalin dalam sebuah perkawinan yang direstui oleh budaya dan Agama, mengikat janji sehidup semati. Cie cie.

Ah bercerita tentang Cinta dan LGBT adalah sebuah Kata cinta yang sangat indah dari Jaluddin Rumi

"Cinta adalah anugerah, tanpa cinta dunia akan membeku. CInta adalah laut luas nan dalam. Cintailah semestinya yang menjadi pilar utama antar manusia, antar bangsa, antar sistem hidup yang berbeda ".

Lalu Kenapa Harus LGBT ?

Dua Sisi Pemuda Indonesia


Ditulis demi memperingati Hari Sumpah Pemuda

Berbicara tentang pemuda dan realitas Indonesia, rasanya bukan perkara ringan untuk diajak ngobrol santai, banyak hal yang bisa dilihat. Dan kemudian banyak hal yang bisa dibicarakan, paling tidak ada dua sisi yang bisa di angkat menjadi sebuah pembicaraan menarik. Baik itu saat diskusi antar forum, atau bahkan bisa menjadi sebuah pembicaraan yang hangat antar dua individu yang asyik dengan analisisnya. Ya dua sisi tersebut adalah sisi baik dan sisi buruk, dalam ruang lingkup apapun pasti ada yang namanya baik dan buruk tanpa terkecuali pemuda Indonesia sekalipun.

FENOMENA REMAJA DAN PEMUDA


Boleh sedikit mengambil cuplikan dari keyword yang penulis search di mesin pencarian google “ umur pelaku begal di Indonesia “ sebuah keyword sederhana yang menampilkan 263.000 pencarian dalam kurung 0,39 detik sungguh membuat kita tercengang, lihat saja pada paragraf pertama google ada artikel yang berjudul “ Penanganan palaku begal dibawah umur harus berbeda “ kemudian disusul “ Ini penyebab anak jadi pelaku begal “ dan seterusnya adalah berita yang serupa menerangkan tentang keprihatinan begal serta umur dari pelaku begal itu sendiri.

Berapa rata-rata usia dari pelaku begal tersebut. Oh, beragam ada yang 15, 16, 17, 19,22, 25 sampai yang sudah mau tuapun ada, akan tetapi jika di kelompokkan maka kita bisa mengambil sebuah kesimpulan rata-rata pelaku begal berumur kisaran antara 15 sampai 25 tahun. Miris bukan, masa ini adalah masa-masa remaja dan muda dimana masa transisi untuk mencari jati diri akan keingintahuan serta kebanggaan. Begal adalah salah satu realitas sebagian pemuda Indonesia yang sama sekali tak layak ditiru, sebuah realitas yang menggambarkan akan jebloknya nilai-nilai Pancasila dan norma pada kader bangsa ini, akan tetapi bukan hanya sebatas begal saja, banyak hal-hal lain yang menggambarkan realitas sebagai pemuda Indonesia, seperti sering berkata jorok, entah itu dari kalangan anak setingkat SD sampai dengan perguruan tinggi yang telah menyandang Mahasiswa, sebuah perbuatan yang simpel untuk di lakukan tanpa memberikan nilai kesalahan pada diri sendiri, akan tetapi dengan perkataan tersebut sedikit mencerminkan nilai akan kepribadian pemuda di Indonesia ini. Lalu apa yang salah dengan pemuda-pemuda ini, tak ada yang salah, hanya saja kita kurang mengerti akan perilaku dan nilai norma didalam hati sana, juga turut terkikisnya nilai kesopanan dan rasa bersalah dalam diri.

Dan lagi sebagian pemuda jauh dari ciri-ciri keperkasaan bangsa ini, bukan satu dua perilaku yang mencerminkan negatifnya pemuda, tapi puluhan, bisa jadi itu ribuan, apa saja itu, kita sendiri bisa menerang jauh kedalam diri kita apa saja sifat dan perilaku itu. Mungkin saja itu pergaulan bebas, bisa saja itu perkelahian, bisa itu gaya hidup mewah, miras, dan sebagainya. Baik dan buruknya sebuah perilaku ada faktor yang bisa dijadikan bahan acuan kenapa realitas sebagian pemuda Indonesia bisa menjadi negatif, penulis menyadari bahwa lingkungan dan dunia luar adalah yang paling utama. Tak bisa disanggah dan tak bisa di elak bahwa dunia semakin terbuka, pesatnya dunia IT ( Informasi Teknologi ) memberikan beberapa dampak, salah satunya adalah keterbukaan akan informasi, masa muda adalah masa transisi untuk mencari kesenangan dan jati diri, berpikir pendek dan cenderung mudah untuk di provokasi. Sosial media contohnya, adalah tempat lahirnya berbagai informasi yang tidak bersahabat, sebuah informasi negatif yang dibaca bisa menjadi ide untuk mereka melakukan kejahatan yang serupa layaknya dalam sebuah berita, karena kita tahu bahwa jiwa remaja dan pemuda mudah memutuskan berbuat sesuatu tanpa berpikir panjang. “ Terkadang fasilitas yang tidak tepat memberikan dampak yang lambat berdampak “ .

Banyak sekali faktor yang disebabkan lingkungan dan keterbukaan informasi ini, salah satunya adalah narkoba. Tentunya kita tahu bahwa penyebab kerusakan moral kalangan remaja dan pemuda yang menjadi perbincangan Pemerintah dan masyarakat setiap tahunnya adalah masalah Narkoba. Narkoba telah menghantui bukan hanya di masyarakat perkotaan. Tetapi, Narkoba telah masuk lebih jauh ke pedesaan. Korbannya adalah remaja dan pemuda yang selalu ingin mencoba yang baru. Bahkan, Narkoba telah masuk ke kalangan anak SD. Tetapi, perlu ditekankan adalah bukan salah kemajuan teknologinya, melainkan salah dalam penggunaannya (human error). Selain narkoba juga ada Minuman keras (miras) yang telah menjadi trend dan budaya di kalangan remaja dan pemuda. Tindakan lain yang mampu merusak moral remaja dan pemuda adalah pergaulan bebas yang tidak terkendali. Hubungan yang terlalu jauh menyebabkan hubungan remaja dan pemuda seperti hubungan suami istri. Tanpa ikatan pernikahan yang disahkan oleh lembaga yang berwenang. Dan berbagai macam hal sisi negatif pemuda Indonesia.

Bapak presiden pertama kita pernah berkata “ “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia” pemuda yang perkasa adalah tombak sejarah untuk masa depan, untuk Indonesia mendatang yang cerah tergantung dari sumber daya manusia masa kini. Oleh sebab itu, usaha untuk perbaikan kerusakan moral di kalangan remaja dan pemuda harus dilakukan sejak dini. Tugas ini merupakan kerja sama yang luar biasa antar Pemerintah dari tingkat pusat sampai daerah, seluruh stakeholders yang berkompeten dan peduli, serta masyarakat di seluruh lapisan. Pemerintah hendaknya semakin gencar mensosialisakian akan kenakalan remaja serta pemuda kepada para remaja dan pemuda secara berkesinambungan sampai ke tingkat RT/RW. Tokoh-tokoh masyarakat pun hendaknya memberikan contoh yang terbaik terhadap warganya. Apalagi, tokoh agama juga sesering mungkin memberikan siraman rohani agar warga timbul rasa sayang terhadap kadar keimanan mereka. Mereka berpikir ulang untuk melakukan tindakan yang bisa merusak moral di kalangan remaja dan pemuda. Para orang tua dan guru juga lebih memberikan perhatian penuh, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Namun, tugas yang paling penting adalah orang tua dan masyarakat sekitarnya yang berperan penting dalam mengontrol dan mengawasi remaja dan pemuda kita.

Memberikan pemahaman terhadap remaja dan pemuda tentang pendekatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa akan memberikan kenyamanan dalam melakukan tindakan yang benar. Oleh sebab itu, baik kalangan guru di sekolah maupun orang tua di rumah harus secara rutin dan berkesinambungan memberikan pemahaman (konseling) tentang bahaya yang ditimbulkan oleh tindakan yang merusak moral remaja dan pemuda. Mereka harus rajin mengadakan pendekatan tentang masalah yang dihadapi oleh remaja dan pemuda kita. Selanjutnya, melakukan pencegahan atau penanganan secara langsung untuk mencegah dampak negatif yang luar biasa. Karena, remaja dan pemuda kita biasanya merasa malu atau takut tentang masalah yang sedang dihadapi, seperti: masalah pacaran, masalah di sekolah atau pergaulan sosial dan lain-lain. Jadi konsepnya, hubungan yang dekat antara remaja dan pemuda dengan guru atau orang tua akan mencairkan suasana tegang (galau). Para remaja dan pemuda yang mempunyai sikap terbuka dengan permasalahannya akan semakin mudah memberikan pengarahan ke arah masa depannya. Kondisi inilah yang mampu menyebabkan remaja dan pemuda menelurkan prestasi yang luar biasa. Bukankah, prestasi dari remaja dan pemuda adalah harapan kita. Jadi, mari kita bersama-sama memberikan perhatian penuh terhadap remaja dan pemuda kita untuk menjauhkan dari kerusakan moral.

PEMUDA SENTRAL NEGARA


Pemuda Indonesia diminta untuk terus bisa memacu diri, menjadi generasi yang baik untuk masa yang akan datang, banyak hal yang bisa menjadikan seorang pemuda yang berguna bagi sebuah bangsa dan negara karena kita sadari bahwa pemuda adalah tonggak penggerak utama dalam perkembangan sejarah bangsa Indonesia. Pemuda memiliki peran sentral dalam perjuangan membangun bangsa, baik perjuangan fisik maupun diplomasi dengan intelektualitas dan organisasi sosial politik yang dimilikinya.

Tanpa adanya pergerakan dan perjuangan dari pemuda, saat ini mungkin bangsa kita belum merdeka. Tentu saja pernyataan tersebut sama sekali tidak bermaksud mengecilkan peran dari para pejuang kemerdekaan lainnya yang pada saat itu sudah tidak termasuk dalam golongan “muda”. Banyak peristiwa yang menegaskan bahwa pemuda memiliki peran sentral dalam membangun bangsa. Sumpah pemuda adalah salah satu contoh sentral pemuda dan bentuk semangat muda yang mampu membangun negeri dengan nilai-nilai positif, dengan semangat kemudaan dalam mempersatukan organisasi, yang pada akhirnya lahirlah sumpah pemuda.

Sumpah pemuda yang lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada peristiwa tersebut dapat dilihat bahwa para pemuda tidak hanya memiliki idealisme dan semangat juang yang tinggi namun juga memiliki inisiatif, intelektualitas dan pemikiran yang kritis tentang bagaimana memajukan bangsa yang dalam hal ini merupakan upaya dalam mempersatukan bangsa. Pada peristiwa tersebut para pemuda merumuskan dan mengikrarkan sebuah sumpah yang mampu menyatukan nusantara. Mungkin apabila saat itu para pemuda tidak mengikrarkan sumpah pemuda, bangsa kita saat ini belum menjadi satu bangsa dan mungkin saja kita belum memiliki satu bahasa yang dapat menjadi pemersatu bangsa ini. Sekali lagi, dari peristiwa tersebut terlihat peran pemuda yang begitu sentral dalam perjuangan membangun bangsa, baik perjuangan secara fisik maupun diplomasi.

Ya, banyak hal yang bisa dilakukan oleh pemuda demi bangsa dan negara Indonesia ini, berperilaku yang baik, menorehkan prestasi, taat terhadap norma agama dan selaras dengan nilai-nilai Pancasila adalah hal-hal yang membanggakan bagi seorang pemuda, selaras dengan semangat dan sejarah sumpah pemuda baiknya seorang pemuda mempunyai nilai-nilai inteletual akan pemikiran bagaimana memajukan bangsa dengan menorehkan ide dan semangat serta prestasi akan kebanggaan Indonesia.

PENUTUP


Fenomena akan sisi negatif pemuda, serta sisi pemuda yang mampu membangun negeri dengan semangat dan pemikiran intelektualitasnya adalah dua sisi yang sangat berbeda, layaknya sebuah balok yang mempunyai sisi-sisi yang berbeda akan tersatukan dengan sekeping balok itu sendiri, Indonesia layaknya balok tersebut dan sisi demi sesi adalah sebuah hal-hal yang saling bertentangan baik itu positif maupun negatif. Indonesia, bagaimanapun setiap sisi akan bisa disatukan jika orang-orang mau bekerja disetiap lininya, tak hanya sekedar bercerita dan berkoar-koar tentang carut marut Indonesia, tapi turut andil menciptakan sebuah negara yang kondusif tanpa ada sisi lain yang retak. Ya, apalah arti sebuah pesan jika hanya didengar telinga tanpa ada tindakan nyata yang mampu mengubahnya, layaknya sebuah mimpi yang hanya diceritakan kepada orang lain sementara waktu. Lain waktu ia akan terlupakan lalu ia bermimpi kembali, kemudian cerita berubah dan terulang kembali.
 
Copyright © 2015 Bang Bintang, All rights reserved