penulis
Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Menikahlah


"Mungkin kau senang dikejar, namun kau tak merasakan lelahnya mengejar. Aku takut kau terlalu senang berlari sampai kau lupa bahwa aku sudah berhenti jauh jauh hari". 

Diatas Intro saja, namun. Menikahlah. 

Ada yang sedikit jual mahal, buanglah. Kali saja menunggu mapan, tenanglah. Karena sesuatu sudah diatur sedemikian rupa.

Kembali Mengenang


"Sesuatu yang kita alami tempo dulu akan kita kenang dikemudian hari". Kira-kira begitulah qoute of ala kadarnya malam ini. Begitulah, sedikit banyak kadang memang betul kala kita mengingat atau menjumpai sesuatu yang serupa dalam waktu yang berbeda. Ah, waktu itu.

Ada baiknya saya bercerita tentang waktu kecil lewat gambar yang saya bidik ini.
Ini adalah kepompong. Tau, itu isinya ulat yang nantinya akan berubah menjadi kupu-kupu yang cantik lagi elok.

Dulu waktu saya kecil sering menggunakan ulat dalam bungkusan daun pisang itu untuk dijadikan umpan pancing, terbukti memang selain cacing ulat kepompong inilah yang menjadi menu favorit makanan ikan.

iIulah sejumput kenangan waktu silam ala tahun 90-an dan kini kembali mengingat saat pulang kampung.

Alah, kasihan ikan kena pancing.

Pulang Kampung.


Ma Pa, lebaran ini anakmu pulang. Selain melihatmu guna melepas rindu, kujuga bawa menantu yang kataku comel itu, tepat sebelum aku menikah dulu.
Kan kemarin saat aku menikah, mama dan bapak tak hadir. Waktu itu mama mengurus bapak yang sedang sakit. Kini waktu yang tepat, ala mudik melepas rindu akan orang tua sekaligus kampung halaman juga memperkenalkan istriku yang suaranya kau dengar lewat telpon itu.

"Apa kabar setia" kali menelepon yang kau tanyakan bagaimana kabar menantu bukan kabar anakmu, mungkin mama risau kalau anak orang tak bahagia hahahha.
Ah, percayalah bahwa aku mencintai ia sepenuh hati, segenap jiwa kata sang punjangga.
Guntung.

Bersamamu


"Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan mu, sementara kau selalu ingin bersamaku".
dan "Bagaimana mungkin aku tidak merindukan mu, sementara kau selalu mengingat ku".
dan pasti, aku selalu ingin bersamamu, merindukanmu, bercerita tentang waktu hingga akhir waktu ".

Jilbab Syar'i


Berjilban syar'i itu bukan tentang 
mau atau tidaknya kita
Bukan pula tengang lingkungan tak mendukung atau apa kata mereka
Bukan pula tunggu kita mampu
Atau ah nanti saja
Kala kita lewat remaja, atau nanti tua saja
Sekarangkan masih muda masih banyak waktu untuk foya-foya
Kan nanti kalau sudah waktunya kita akan berhijab kok gitu katanya
Atau, ada juga yang bilang nanti ajalah berjilbab. Kita masih belum pantas kita sifatnya tak sesuai dengan raga
Bukan....
Menggunakan jilbab yang syar'i itu tuntunan
Sebuah kewajiban
Ada pedomannya di Al-qur'an
Wajib dilakukan setiap wanita muslimah tanpa kecuali atau halangan.

Kau harus tau itu
Tak usah tunggu waktu
Tak perlu tunggu-tunggu
Karena mati tak di kasi tau
Saat hidup dan ada waktu
Itulah kesempatan yang terbaik untuk maju
Menjadi muslimah yang unggul, cantik cerdas dan pemalu
Karena jilbab bukan soal sifat tapi karena ia kewajiban.

Sajak


Pergi. Ada kalanya sebuah keputusan harus di ambil. Bukan menghindari atau tidak menyukai lagi. Tapi terlalu eronis untuk di pertahankan.

Terkadang yang diinginkan sebenarnya tak dibutuhkan, sedangkan yang dibutuhkan tak bisa dimiliki. Tapi Tuhan, tahu apa yang terbaik.

*tulisan-tulisan diatas adalah status facebook saya pada tahun 2013. 


Kupikir....


Ku pikir Negeri ini saja yang lucu, ternyata hidupku lebih lucu. Kupikir hanya menonton flm saja bisa bersedih, ternyata terkadang hidupku lebih sedih. Saya pikir hidup ini seperti adengan drama dalam film komedi dan romantis, yah terkadang tertawa terkadang juga bersedih. Ah, kata bijak mengatakan " Hidup adalah drama dan saya adalah pemeran utama didalamnya ". Jadi, sayalah yang bertangung jawab sepenuhnya terhadap diri saya, bukan mereka atau kamu

Merekam

Kata Pak Kyai, “badan kita itu terdiri dari dua unsur: jasmani dan ruhani. Jasad kita bisa hidup karena keberadaan Ruh, yang dahulu ditiupkan ke jasad kita ketika masih berada dalam kandungan ibu. Ruh-lah yang membuat jasad kita hidup. Ketika ruh meninggalkan jasad kita untuk menemui Sang Pencipta maka kita tidak bisa disebut sebagai makhluk hidup lagi.”

Dengan unsur jasmanilah maka kita (menjadi) terikat oleh ruang dan waktu di dunia ini. Menjalani detik demi detik hingga tahun berbilang. Di situlah kita menjalani hidup, menjalankan peran sebagai hamba Tuhan sekaligus khalifah-Nya, mengalami berbagai kejadian dari yang remeh-temeh hingga serius!.

Itulah hal yang mendasar, beberapa tulisan di facebook ini, juga blog coba untuk merekam kejadian-kejadian yang dialami oleh orang pertama. Mungkin bisa menjadi hikmah dan pelajaran. Jika tidak cukup menjadi kenangan-kenangan yang suatu saat akan di rindukan. Merekam.

Sebelum Menjadi Penulis


Katanya " Sebelum anda menjadi penulis yang ahli, terlebih dahulu anda harus menjadi pembaca yang ahli, dan ada banyak hal yang menunggu untuk ditulis, di setiap langkah anda. katanya juga "dengan hanya menunggu inspirasi, anda akan berhasil menemukan 1 inspirasi. Tapi dengan aktif mencari, anda bisa mendapatkan ratusan inspirasi dalam satu hari". Oh, saya teringat dengan kata-kata mbak Evi Novita Sari teman saya " tak harus menunggu galau untuk mendapatkan inspirasi dan kata-kata inda... Lihat Selengkapnya

Saya Suami dan Kau Istri, Karunialita Setiani


Bahagia sekali hari ini
kala saya melengkapi separuh agama ilahi
saya sebagai seorang suami
beristrikan dengan karunialita setiani

Hari ini status saya sudah terobahi
punya tangung jawab sebagai suami
siap mencintaimu sepenuh hati
menyangi
mengasihi
menafkahi
memberi tanpa harap kembali
dan kamu istriku patuhlah pada ilahi dan suami
tugasmu adalah " patuh apa yang telah diperintahkan oleh ilahi juga suami"

Tak bayak yang aku harap, jadilah kita sepasang suami istri
layaknya Rasullah dan Khodijah selalu memberikan yang terbaik tanpa beban dihati


Dua Sisi Balok


Diibaratkat sebuah balok, saat sebuah sisi balok di dorong maka ada sisi balok lain yang maju, semangkin kuat dorongan sebuah balok maka semangkin cepat pula majunya. Jika balok tersebut tidak di dorong maka sudah pasti sisi depan balok tersebut tidak akan maju. Apakah begitu dengan hidup kita, di ibaratkan kita adalah sisi balok tersebut, jika mau maju maka perlunya sebuah dorongan atau usaha dari dalam diri kita agar sisi kita yang lain bisa maju dan menonjolkan diri. Semangkin kuat sebuah usaha maka semangkin kelihatan pula potensi atau apa yang kita harapkan. Tentunya jika kita tidak melakukan apa-apa atau malah memproteksi diri, kita tak akan pernah maju dan bahkan akan mundur sepertihalnya saat sisi balok di tarik maka ada sisi balok lain yang akan mundur.

Hidup Menawarkan Pilihan

 
Menyapa pagi, sejenak saya teringat sebuah tulisan yang sangat indah di Fanspage Stefanus Sandy, Katanya.

" Hidup selalu menawarkan pilihan.
Tersenyum atau marah.
Memaafkan atau membalas.
Mencintai atau membenci.
Bersyukur atau mengeluh.

Tidak ada pilihan tanpa kosekuensi.
Namun "DIA" selalu memberikan yang terbaik.

Rencana tetaplah rencana.
Rencana kita boleh indah, namun rencana TUHAN tetaplah yg terindah ".

Dia


Dia sang pujangga,
menuliskan sajak puisi,
puisi tentang kerinduan,
rindu akan datangnya sang penyejuk jiwa,
Dia bertanya pada burung
pada gelap malam,
adakah Ia pernah singgah
untuk menyapa engkau,
mereka tak menjawab,
hanya tersenyum kecil
dalam dan penuh makna,
Dia sang pujangga,
memejamkan kedua matanya
berlinangkan air mata
membasahi baju lusuhnya,
Dia jauh dari dunia fana
tapi ia lebih dekat dengan cinta.

Hari Ini Adalah Keputusan Hari Kemarin


Kita memang engak tau kita apa masih melihat matahari terbit besok, tapi setidaknya kita mempunyai mimpi dan tujuan apa yang harus kita capai untuk hari esok. Seperti kata bijak, selagi masih muda dan memiliki banyak waktu , kita harus pandai memanfaatkan waktu lebih bijaksana supaya dapat memberikan lebih banyak manfaat.

Saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa siapa Anda hari ini adalah hasil dari setiap pilihan dan keputusan yang Anda buat kemarin.

Memberi


Adalah kebahagiaan ketika kita bisa memberi,
adalah sebuah kebahagiaan ketika kita bisa menolong.

Memberi yang berarti adalah ketika sebuah pemberian begitu di BUTUHKAN.
Tak memandang kasta, tapi sesuai dengan apa yang sedang di PERLUKAN.

Satu sesi di acara Kick Andy bersama Irwan Hidayat Dirut Sido Muncul.

Kick Andy : Saya selalu ingin tau, tentang apa yang terpikirkan oleh orang-orang seperti anda tentang berbagi. Banyak orang yang khawatir karena dengan berbagi hartanya akan berkurang, takut harta warisan yang diberikan kepada anak akan berkurang juga. Apakah ada ketakutan dengan demikian anda akan menjadi miskin begitu ?

Irwan Hidayat : Yaa, sejauh ini ngak. Semakin kita sadar ngak maka semakin semangat...Sejauh pengalaman saya, semakin kita membantu, "Yang paling berharga itu apa ?" HATINYA TENTERAM.

Ya, "memberi bukanlah mengurangi apa yang telah diberikan tuhan kepada kita, melainkan mengembalikan hak orang lain yang dititipkan Tuhan pada kita."

Kenangan


Apapun kenangannya memang wajib disimpan. Tapi harus tau dimana meletakkan kenangan itu.
Karena itulah yang menjadikan nostalgia suatu waktu yang akan hadir kembali.

Tak ada yang benar-benar buruk didunia ini bukan, dan tak ada juga yang benar-benar baik. Karenanya tak ada yang sempurna di dunia ini.

Termasuk kenanganmu, apakah sepahit itu, atau mungkin semanis apa ia. Pahit dan manis hanya soal waktu, kelak kenangan akan berdamai dengan hati kita. Kata orang " bahkan aku sulit mengingat yang aku tau aku sudah seperti saat ini ".

Memilih Mu


Semakin dewasa seorang lelaki semakin selektif dalam memilih. Percaya bahwa ada ukuran tersendiri kenapa harus kamu yang menjadikan ia suka.

Jika orang tuamu kaya, kaupun punya rumah, bawa mobil tak akan menjadi dasar kenapa harus memilih mu.Karena yang ia lihat adalah bagaimana kau menjadi seorang ibu.

Ya sederhana bukan, cukup kau terlihat bisa menjadi seorang ibu, mampu menjaga anak-anaknya kelak.

Dan ia dapati surga itu ada di rumah yang terdapat engkau didalamnya.

Pergi

Pergi, ya pergi
Jika ia pergi lalu aku bisa apa ?
Menunggu tak mungkin, karena belum tentu ia kembali
Lantas yang tersisa hanya luka kemudian kesepian datang menemani.
Banyak kali kenangan lewat, bahkan mampir lalu menginap lama dalam ingatan.
Semakin ia ku usir pergi, semakin lama ia menetap.

Terus dan terulang.

Kata pergi merubah segalanya. Jika ia cerah maka pergi adalah mendung lalu halilintar datang bergemuruh lengkap dengan hujannya.

Salahkan cinta ?, tidak. Kita menang yang bodoh atau kita yang terlena dengan indahan, sementara hidup perlu di uji.

Lantas, salahkah yang pergi ?.

Aku Kini Sendiri


Dari suaramu yang gelisah, aku belajar mendengar. Dari air matamu yang pasrah, aku mengajarimu untuk tegar. Mungkin memang tak ada cerita, namun jatuh hati sudah terjadi, jika seribu kalipun kau bercerita, aku akan duduk manis disini. Dengarlah dinda, aku lelaki yang menunggu kau mengucapakan “Aku kini sendiri”.


Di Secangkir Kopi


Disecangkir kopi. Biarlah aku menjelma apa saja yang kau inginkan, Menjadi pahit atau manis asal tetap kau rindukan.
 
Copyright © 2015 Bang Bintang, All rights reserved